Baterai mobil listrik mengalami degradasi karena reaksi kimia di dalam sel lithium-ion terus berubah seiring waktu, suhu, proses charging, dan pemakaian. Akibatnya, kemampuan baterai menyimpan energi secara perlahan berkurang sehingga kapasitas dan jarak tempuh kendaraan dapat menurun.

Degradasi sebenarnya merupakan proses normal. Bahkan baterai EV yang jarang digunakan tetap dapat mengalami penurunan kapasitas karena proses yang disebut calendar aging.

Apa Itu Degradasi Baterai EV?

Degradasi baterai EV adalah penurunan kemampuan baterai dalam menyimpan energi dan menghasilkan daya dibandingkan saat masih baru.

Kondisi baterai biasanya digambarkan melalui State of Health (SoH). Sebagai ilustrasi sederhana, jika baterai awalnya memiliki kapasitas 60 kWh dan setelah beberapa tahun kapasitas efektifnya menjadi 54 kWh, kapasitasnya telah turun sekitar 10%.

Secara umum terdapat dua bentuk penuaan baterai:

Jenis degradasiPenyebab utama
Calendar agingWaktu, temperatur, dan kondisi State of Charge
Cycle agingSiklus charging-discharging dan pola penggunaan

NREL menjelaskan bahwa umur baterai dipengaruhi antara lain oleh temperatur, charge/discharge rate, dan riwayat State of Charge.

Kenapa Baterai Mobil Listrik Bisa Degradasi?

1. Reaksi Kimia di Dalam Baterai

Saat baterai di-charge dan digunakan, ion lithium bergerak antara anoda dan katoda. Proses tersebut tidak selalu 100% reversibel.

Seiring waktu dapat terjadi berbagai reaksi samping, salah satunya pertumbuhan lapisan Solid Electrolyte Interphase (SEI). Lapisan ini sebenarnya diperlukan agar baterai dapat bekerja stabil, tetapi pertumbuhan berlebihan dapat mengurangi lithium aktif yang tersedia.

Penelitian NREL juga menunjukkan mekanisme seperti kehilangan lithium aktif, degradasi material katoda, pertumbuhan SEI, dan retakan elektroda sebagai bagian dari proses capacity fade.

2. Temperatur Baterai Terlalu Tinggi

Panas merupakan salah satu faktor penting yang mempercepat reaksi kimia penyebab penuaan baterai.

Penelitian pada baterai lithium-ion menunjukkan temperatur tinggi dapat meningkatkan penurunan performa. Karena itu, EV modern menggunakan Battery Thermal Management System untuk menjaga temperatur baterai tetap dalam rentang yang sesuai.

Hal ini menjadi semakin relevan pada negara beriklim tropis seperti Indonesia. Studi 2026 menggunakan data charging di Indonesia juga menyoroti kombinasi temperatur lingkungan tinggi dan penggunaan DC fast charging sebagai faktor yang perlu dikelola untuk mengurangi thermal stress.

3. Baterai Terlalu Lama Berada pada SoC Tinggi

Meninggalkan baterai dalam kondisi hampir penuh untuk waktu panjang dapat mempercepat calendar aging pada sejumlah kimia lithium-ion.

Dataset penelitian baterai NMC/C-SiO menunjukkan pembatasan charging hingga 90% dibanding 100% dapat memberikan keuntungan terhadap umur sel pada kondisi pengujian tertentu. Namun, besarnya pengaruh sangat bergantung pada jenis sel, temperatur, BMS, dan desain kendaraan.

Artinya, charging sampai 100% sesekali bukan berarti baterai langsung rusak. Yang lebih penting adalah pola penggunaan jangka panjang.

Apakah DC Fast Charging Mempercepat Degradasi?

Bisa, terutama apabila charging berdaya tinggi dilakukan pada kondisi baterai yang kurang ideal.

Arus charging tinggi dapat meningkatkan temperatur dan, dalam kondisi tertentu, meningkatkan risiko lithium plating pada anoda. Lithium plating terjadi ketika lithium mengendap sebagai lithium metal dan tidak seluruhnya kembali mengikuti proses normal baterai.

Namun, ini tidak berarti DC fast charging harus dihindari sepenuhnya. EV modern mengontrol charging berdasarkan temperatur, SoC, kemampuan sel, dan kondisi baterai melalui BMS.

Cara Membantu Memperlambat Degradasi Baterai EV

Untuk penggunaan sehari-hari, beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu:

  • Hindari membiarkan baterai terlalu lama pada kondisi sangat penuh atau sangat kosong.
  • Untuk aktivitas rutin, gunakan rentang SoC moderat jika sesuai rekomendasi pabrikan.
  • Gunakan AC charging di rumah untuk charging harian apabila memungkinkan.
  • Gunakan DC fast charging ketika memang membutuhkan pengisian cepat.
  • Hindari membiarkan kendaraan terlalu lama dalam kondisi panas ekstrem.
  • Selalu prioritaskan rekomendasi charging dari produsen kendaraan.

Tidak ada satu aturan persentase yang cocok untuk seluruh EV karena kimia baterai dan strategi BMS setiap kendaraan berbeda.

Kesimpulan

Baterai EV terdegradasi karena kombinasi umur, temperatur, State of Charge, siklus pemakaian, dan reaksi kimia internal. Proses ini normal dan tidak dapat dihentikan sepenuhnya, tetapi dapat diperlambat melalui pengelolaan temperatur dan kebiasaan charging yang baik.

Untuk penggunaan harian di rumah, sistem AC charging yang sesuai dengan kapasitas listrik, proteksi, kabel, dan grounding dapat memberikan proses charging yang aman dan praktis. EV51PRO powered by Tokolistrik51 menyediakan solusi instalasi EV charger untuk kebutuhan rumah maupun komersial.

FAQ

Apakah baterai EV pasti mengalami degradasi?
Ya. Semua baterai lithium-ion mengalami penuaan secara bertahap akibat waktu dan penggunaan.

Apakah sering charging sampai 100% merusak baterai?
Tidak secara langsung. Namun, membiarkan beberapa jenis baterai terlalu lama pada SoC sangat tinggi dapat mempercepat calendar aging.

Apakah fast charging membuat baterai cepat rusak?
Tidak selalu. Dampaknya bergantung pada temperatur, charging rate, SoC, kimia sel, dan sistem manajemen baterai.

Apa bedanya calendar aging dan cycle aging?
Calendar aging terjadi seiring waktu meskipun baterai tidak digunakan, sedangkan cycle aging berkaitan dengan proses charge dan discharge.


Jangan Lewatkan Artikel ini!